Jumat, 19 November 2010

Sejarah Cipta Sejati 
 
“Cipta Sejati”, selanjutnya disebut dengan “CS” adalah Institut Seni Bela Diri Silat yang mengajarkan “tenaga dalam”, juga dikenal dengan istilah Prana atau Chi (Ki). Diantara manfaat terpenting bagi peserta latih adalah dapat meningkatkan dan memelihara kesehatan, pengobatan diri sendiri dan orang lain (bidang kesehatan). Kewaskitaan secara umum juga digunakan untuk mengatasi semua problem gangguan dalam kehidupan baik secara nyata (fisik) maupun non fisik (gaib). Namun keilmuan “CS” bersifat pasif (defensif), dalam arti dapat bekerja pada saat terdesak (darurat) saja, yaitu saat ingin membela diri. Tidak dapat digunakan untuk menyerang. Setiap siswa dibimbing secara moral, sehingga untuk dapat naik tingkat dituntut untuk mengamalkan dan mengembangkan ilmu “CS” dalam kebaikan. Nilai-nilai ajaran Islam menjadi landasan pendekatan, pemahaman dan pengembangan keilmuan “CS”. Setiap anggta “CS” sangat tidak dianjurkan berhubungan dengan makhluk astral (jin). Latihan yang dilakukan adalah senam, senam pernafasan, gerakan jurus silat, konsentrasi / pemusatan dan pemanfaatan tenaga dalam / prana.
“Cipta Sejati” yang berpusat di Banjarmasin, sesungguhnya telah mulai hadir dan berkegiatan di kota Medan dan sekitarnya sejak tahun 1998.
Sifat.
Keilmuan CS Bersifat Pasif (Defensif) dalam arti hanya dapat bekerja hanya pada saat terdesak (darurat) saja,yaitu pada saat ingin membela diri.jdi tidak dapat mendahului menyerang lawan.Hal ini menguntungkan dari satu sisi karena dapat encegah pemegang ilmu berbuat semena-mena dengan ilmunya.

Syarat

Dalam CS ada empat pantangan (ketentuan) yang tidak boleh dilanggar secara mutlak ,yaitu:
1.Tidak boleh melawan (duhaka) pada orang tua.
2.Tidak boleh merusak pagar ayu.
3.Tidak boleh makan daging babi
4.Tidak boleh Mabuk .
Dan satu larangan sebagai pelengkap ,yaitu tidak boleh sombong. Seseorang yang ingin menjadi anggota CS dipersyaratkan untuk dapat menyetujui empat pantangan dan satu larangan tersebut.Kemudian akan diperkenalkan dan menguasai 10 jurus dasar CS.

Manfaat

CS dapat digunakan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan/pengobatan diri sendiri dan orang lain (bidang kesehatan),Kewaskitaan dan secara umum juga digunakan untuk mengatasi semua problem/gangguan dalam kehidupan,baik secara nyata (fisik) maupun Non fisik (gaib) Karena CS seperti energi pelindung yang dapat memahami kebutuhan kita,sehingga akan bekerja setiap kali -dibutuhkan.Setiap Siswa di CS dibimbing secara moral,sehingga untuk dapat naik ketingkat yang lebih tinggi dituntut untuk mengamalkan dan mengembangkan ilmunya dalam kebaikan.Secara tidak langsung hal ini mendidik anggotanya untuk tetap dalam kebaikan dan semakin mendalami nilai – nilai ajaran agama Islam.

Sejarah Singkat Silat Nasional Perisai Diri

PENDIRI

Perisai Diri didirikan oleh Raden Mas Soebandiman Dirdjoatmojo. Putra Raden Mas Pakoe Sudirdjo ini lahir pada tanggal 8 Januari 1913 dalam tembok Paku Alaman. Pemuda ini tumbuh sebagai pesilat, baru berumur sembilan tahun saja, silat di Keraton Paku Alaman sudah terkuasai.

Soebandiman sadar, dunia silat bukan cuma sebatas tembok keraton. Setamat HIK pada umur 16 tahun ia meninggalkan Paku Alaman demi ilmu silat.

Pemuda Soebandiman pergi menyusuri kota demi kota. Jombang, Solo, Semarang, dan Cirebon adalah tempatnya belajar silat. Ilmu kanuragan dan ilmu agama diserapnya dari pakar-pakar ilmu tersebut.

Pengalamannya berguru silat membuahkan tekad besar untuk menggabungkan dan mengolah ilmu-ilmu yang dipelajarinya itu. Berpindah guru baginya berarti mengetahui hal baru dan menambal yang kurang. Satu keyakinannya, bila sesuatu dikerjakan dengan baik dan didasari dengan niat baik pula, maka Tuhan akan menuntunnya mencapai cita-cita, iapun mulai meramu ilmu silat sendiri.

Silat ciptaan R.M.S. Dirdjoatmojo yang pertama disebarkan dengan membuka perguruan silat Eka Kalbu di Banyumas. Ditengah kesibukannya melatih dan membina perguruan, ia terus belajar, diantaranya berguru pada seorang suhu bangsa Tionghoa yang beraliran Siauw Liem Sie yang membuat ilmunya semakin paripurna.

Pada tahun 1954 R.M.S. Dirdjoatmodjo pindah ke Surabaya, dibantu seorang muridnya mengadakan kursus pencak silat yang menandai berdirinya Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri pada tanggal 2 Juli 1955. Teknik Silat yang diajarkan adalah gabungan berbagai teknik beladiri yang ada di Indonesia.

Kursus Perisai Diri mulai berkembang, peminatnya bukan sekedar pelajar dan mahasiswa, namun meluas ke kalangan pekerja, pegawai negeri, swasta, sampai militer. Perisai Diri-pun melebarkan sayap sampai ke Australia, Belanda, Jerman, Austria, dan Inggris. Menunjukan Silat yang satu ini mudah dipelajari oleh semua orang, segala usia, dan tingkatan ekonomi, sosial dan bangsa .

Pada tanggal 9 Mei 1983, R.M.S. Dirdjoatmodjo berpulang menghadap Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta. Tongkat kepelatihan beralih pada murid-murid utamanya, para anggota pendekar. Untuk menghargai jasa-jasanya pada tahun 1986 pemerintah RI menganugerahkan gelar Pendekar Purna Utama untuk guru tercinta ini.

TEKNIK

Perisai Diri merupakan intisari dari segala ilmu silat yang dimiliki R.M.S. Dirdjoatmodjo. Ilmu silat yang terdiri atas 19 teknik ini disesuaikan dengan kebutuhan dan anatomi manusia.
Ke-19 teknik tersebut mempunyai ciri tersendiri dalam hal pengosongan, peringanan dan pemberatan tubuh, gerak merampas dan merusak, menangkis dan mengunci serangan tangan, kaki dan badan, cara menghindar dan mengelak, gerak lompatan, cara menolak, menebang dan melempar, gerak mendorong dan menebak, pengaturan napas, penyaluran tenaga serta penggunaan senjata.

Ke-19 teknik tersebut adalah Jawa Timuran, Minangkabau, Betawen, Bawean, Cimande, Burung Meliwis, Burung Kuntul, Burung Garuda, Kuda Kuningan, Lingsang, Harimau, Naga, Satria Hutan, Satria, Pendeta, Putri Bersedia, Putri Berhias, Putri Teratai, dan Putri Sembahyang.

Perisai Diri juga mengenal penggunaan senjata. Senjata wajib bagi pesilat PD adalah pisau, pedang, dan toya. Dengan dasar penguasaan ketiga senjata itu, pesilat PD dapat menggunakan senjata lainnya seperti pentung, teken, rantai, payung, clurit, trisula, samurai, tombak, golok, kipas, dan lain sebagainya.

Perisai Diri juga mengajarkan kerohanian secara bertahap dengan maksud memberi pengertian dan pelajaran tentang diri pribadi dan manusia pada umumnya. Anggota Perisai Diri diharapkan mempunyai kepercayaan diri yang kuat, berperangai lemah lembut, serta bijaksana dalam berpikir dan bertindak. Pendidikan kerohanian ini dibagi menjadi dua bagian, yang pertama adalah pendidikan mental yang mendidik siswa menjadi manusia bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, tangguh, ksatria, dan berbudi luhur. Yang kedua bersumber dari R.M.S. Dirdjoatmodjo untuk memerisai diri dan lebih mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa.

Keseimbangan antara Pengetahuan silat dan kerohanian akan menjadikan anggota Perisai Diri waspada dan mawas diri, tidak sombong, dan setiap saat sadar bahwa di atas segalanya ada Sang Pencipta. Keseimbangan ini akan mengarahkan manusia pada tujuan akhir yang paling luhur, yakni mengabdi kepada Tuhan Sang Pencipta.

SEJARAH IKS PI KERA SAKTI


Perguruan IKS PI Kera Sakti yang berpusat di Madiun Jawa Timur ini merupakan perguruan beladiri beraliran kung fu untuk gerakan beladirinya tetapi untuk kerohaniannya lebih cenderung ke Banten dan ulama Jawa. Berdiri pada tanggal 15 Januari 1980 di Jl. Merpati No. 45, Kelurahan Nambangan Lor, Kecamatan Mangunharjo, Kodya Madiun oleh bapak R Totong Kiemdarto dengan gerakan beladiri kung fu aliran utara dan selatan yang dipelajarinya dari pendekar aliran kung fu China yang ada di Indonesia.

Adapun nama dari perguruan ini semula adalah
IKS PI (Ikatan Keluarga Silat "Putra Indonesia) tetapi ketika perguruan mulai berkembang diberi nama tambahan "Kera Sakti" dibelakangnya. Hal ini adalah karena masyarakat maupun murid-murid perguruan ini lebih mengenal nama jurus perguruan yaitu teknik jurus keranya daripada nama asli perguruan. Untuk itu selanjutnya dalam memudahkan pencarian identitas perguruan sekaligus secara tidak langsung menambah wibawa nama perguruan maka disebutlah IKS PI Kera Sakti.

Bapak Totong Kiemdarto lahir pada tanggal 20 Oktober 1953 di Madiun. Sebagai pendiri sekaligus guru besarnya, ia mengajarkan pelajaran silat monyet dan kerohanian untuk memantapkan fisik dan iman siswa dan siswi yang selaras dengan tujuan pembangunan nasional yaitu mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya, yang sehat lahir maupun batin dan berjiwa pancasila.

Pada mulanya perguruan ini hanya dikenal di lingkungan masyarakat desa Nambangan Lor saja tetapi pada sekitar 1983 beberapa murid angkatan I dan II mulaimengembangkan ajaran perguruan di beberapa tempat, yaitu SMAN 3 Madiun, Lanuma Iswahyudi dan Dempel. Baru kemudian menyusul berkembang ditempat lain yang tidak saja di wilayah eks Karesidenan Madiun tetapi juga diluar Madiun.

Didalam metode latihan IKS PI Kera Sakti terdapat 5 tahapan penting untuk mencapai tingkatan tertinggi,yaitu:

  1. Tingkat dasar I sabuk hitam dengan lama latihan 6 bulan;
  2. Tingkat dasar II sabuk kuning sengan lama latihan 6 bulan;
  3. Warga tingkat I sabuk biru dengan lana latihan 1 tahun;
  4. Warga tingkat II sabuk merah;
  5. Warga tingkat III sabuk merah strip emas.

I. Tingkat Dasar I Sabuk Hitam
Untuk latihan awal siswa tingkat dasar I harus melewati 3 tahapan penting di dalam latihan, yaitu:
  1. tingkat awal (materi latihan dimana siswa mulai mempelajari gerakan dasar prguruan);
  2. tingkat menengah (materi latihan dimana siswa mulai mempelajari gerakan lanjutan);
  3. tingkatan akhir (materi latihan dimana siswa akan diuji untuk melanjutkan ke tingkat dasar II).
Materi yang diberikan pada tingkat dasar I sabuk hitam antara lain teknik senam pelemasan dan yoga, teknik dasar pukulan dan tendangan, teknik dasar pernafasan Chi Kung serta teknik dasar pengembangan jurus.

II. Tingkat Dasar II Sabuk Kuning
Untuk latihan awal siswa tingkat dasar II harus melewati 3 tahapan penting dalam latihan, yaitu:
  1. tingkat awal (materi latihan dimana siswa mulai mempelajari gerakan dasar lanjutan perguruan);
  2. tingkat menengah (materi latihan dimana siswa mulai mempelajari gerakan lanjutan);
  3. tingkat akhir (materi latihan dimana siswa akan diuji untuk melanjutkan ke warga tingkat I.
Materi yang diberikan adalah teknik senam pelemasan dan yoga, teknik dasar pukulan dan tendangan, teknik dasar pernafasan serta teknik dasar pengembangan jurus.

III. Warga Tingkat I Sabuk Biru
Warga tingkat I harus melewati 3 tahapan penting dalam latihan, yaitu:
  1. tingkatan awal (materi latihan dimana siswa mulai mempelajari gerakan perguruan yang lebih rumit);
  2. tingkkatan menengah (materi latihan dimana siswa mulai mempelajari gerakan kombinasi);
  3. tingkat akhir (materi latihan dimana siswa akan diuji untuk melanjutkan ke warga tingkat II.
Materi yang diberikan pada Warga tingkat I Sabuk Biru adalah teknik senam pelemasan dan yoga, teknik dasar pukulan dan tendangan, teknik dasar pernafasan, teknik dasar pengembangan jurus.

IV. Warga Tingkat II Sabuk Merah
Untuk latihan bagi warga tingkat II lebih banyak mengacu pada pengembangan, kecepatan dan refleksitas gerakan jurus maupun kombinasi. Sedangkan untuk materi yang diberikan pada warga tingkat II ini hanya boleh diketahui oleh warga tingkat II keatas dan tidak dapat disebarkan kepada umum alias dirahasiakan.

V. Warga Tingkat III Sabuk Merah Strip Emas
Untuk latihan bagi warga tingkat III lebih banyak mengacu pada pemantapan dari pengembangan, kecepatan dan refleksitas gerakan jurus maupun kombinasi. Seperti halnya materi pada warga tingkat II, materi tingkat ini juga dirahasiakan.

Sejarah Karate di Indonesia

 


Di tahun 1964, kembalilah ke tanah air salah seorang mahasiswa Indonesia yang telah menyelesaikan kuliahnya bernama Drs. Baud A.D. Adikusumo(Alm). Beliau adalah seorang karateka yang mendapatkan sabuk hitam dari M. Nakayama, JKA Shotokan. Ia mulai mengajarkan karate. Melihat banyaknya peminat yang ingin belajar karate, dia mendirikan PORKI (Persatuan Olahraga Karate-Do Indonesia) yang merupakan cikal bakal FORKI (Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia). Sehingga beliau tercatat sebagai pelopor seni beladiri Karate di Indonesia.Dan beliau juga pendiri Indonesia Karate-DO (INKADO)
Setelah beliau, tercatat nama putra-putra bangsa Indonesia yang ikut berjasa mengembangkan berbagai aliran Karate di Indonesia, antara lain Bp. Sabeth Mukhsin dari aliran Shotokan, pendiri Institut Karate-Do Indonesia (INKAI) dan Federasi Karate Tradisional Indonesia (FKTI), dan juga dari aliran Shotokan adalah Anton Lesiangi (pendiri Lembaga Karate-Do Indonesia/LEMKARI, yang pada dekade 2005 karena urusan internal banyak anggota Lemkari yang keluar dan dipecat yang kemudian mendirikan INKANAS (Institut Karate-do Nasional) yang merupakan peleburan dari perguruan MKC (Medan Karate club). Kabarnya, perguruan ini sekarang menjadi besar dan maju, tidak kalah dengan LEMKARI.
Aliran Shotokan adalah yang paling populer di Indonesia. Selain Shotokan, Indonesia juga memiliki perguruan-perguruan dari aliran lain yaitu Wado dibawah asuhan Wado-ryu Karate-Do Indonesia (WADOKAI) yang didirikan oleh Bp. C.A. Taman dan Kushin-ryu Matsuzaki Karate-Do Indonesia (KKI) yang didirikan oleh Matsuzaki Horyu. Selain itu juga dikenal Bp. Setyo Haryono dan beberapa tokoh lainnya membawa aliran Goju-ryu, Bp. Nardi T. Nirwanto dengan beberapa tokoh lainnya membawa aliran Kyokushin. Aliran Shito-ryu juga tumbuh di Indonesia dibawah perguruan GABDIKA Shitoryu (dengan tokohnya Dr. Markus Basuki) dan SHINDOKA (dengan tokohnya Bp. Bert Lengkong). Selain aliran-aliran yang bersumber dari Jepang diatas, ada juga beberapa aliran Karate di Indonesia yang dikembangkan oleh putra-putra bangsa Indonesia sendiri, sehingga menjadi independen dan tidak terikat dengan aturan dari Hombu Dojo (Dojo Pusat) di negeri Jepang.
Pada tahun 1972, 25 perguruan Karate di Indonesia, baik yang berasal dari Jepang maupun yang dikembangkan di Indonesia sendiri (independen), setuju untuk bergabung dengan FORKI (Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia), yang sekarang menjadi perwakilan WKF (World Karate Federation) untuk Indonesia. Dibawah bimbingan FORKI, para Karateka Indonesia dapat berlaga di forum Internasional terutama yang disponsori oleh WKF.

Jumat, 05 November 2010

SEJARAH BERDIRINYA WUSHU INDONESIA

Wushu atau yang seringkali juga disebut Kungfu adalah Seni Beladiri yang berasal dari Tiongkok kuno. Tersebar keseluruh penjuru dunia melalui orang Tionghoa / Hua Ren yang pergi merantau.

Sejarah munculnya seni beladiri ini sudah tidak bisa ditelusuri lagi, konon usianya sudah ribuan tahun. Mungkin sama tuanya dengan sejarah Tiongkok yang dihiasi dengan banyak pertempuran. Dimana saat itu seni untuk bertempur dan mempertahankan diri sudah dikenal dalam bentuk yang masih sederhana.

Arti dari kata Wu adalah ilmu perang sedangkan arti kata Shu adalah seni. Sehingga Wushu dapat juga diartikan seni untuk berperang. Dimana didalamnya mengandung aspek seni, olahraga, kesehatan, beladiri dan mental.

Mempelajari Wushu sebenarnya tidak hanya terbatas pada hal-hal yang berhubungan dengan gerakan fisik belaka. Melainkan juga melibatkan pikiran, olah pernapasan, pemahaman anatomi tubuh, aliran darah dan jalur energi tubuh. Juga mempelajari penggunaan ramuan untuk memperkuat tubuh ataupun untuk pengobatan.

Disisi lain Wushu juga membentuk kepribadian, melatih kedisiplinan, ketahanan mental, kecerdikan, kewaspadaan, persaudaraan, jiwa satria dan lain sebagainya. Maka Wushu juga berfungsi sebagai ‘way of life’. Bahkan lebih jauh lagi bisa menjurus kearah pengembangan spiritual.

Di Indonesia sebenarnya Wushu sudah lama dikenal dengan istilah Kungfu. Tetapi barulah pada tanggal 10 November 1992 KONI pusat meresmikan berdirinya PB Wushu Indonesia yang merupakan wadah bagi seluruh Perguruan Kungfu di Indonesia.

Menilik Sejarah Merpati Putih


Siapa yang tak mengenal perguruan silat Merpati Putih ? beberapa praktisi silat pasti mengenal perguruan ini. Namun apakah adakah yang tahu mengenai sejarahnya  dan perkembangannya? Berikut artikel yang didapat Tim SI mengenai sejarah dan perkembangannya dari panitia Kejurnas MP V/2010 .

Sekitar tahun 1960 Bapak Saring Hadi Poernomo aktif membina kedua puteranya sekaligus yaitu Poerwoto Hadi Poernomo dan Budisantoso Hadi Poernomo merupakan pewaris termuda yang dikenal dengan panggilan Mas Poeng dan Mas Budi.
Pada tahun 1962 mas Poeng dan mas Budi mendapat amanat dari ayahnya Sang Guru Bapak Saring Hadi Poernomo agar ilmu beladiri yang sebelumnya merupakan milik keluarga itu disebarluaskan kepada umum demi kepentingan bangsa.
Tanggal 2 April 1963 di Yogyakarta, Merpati Putih resmi didirikan. Sejak inilah Merpati Putih dikenal masyarakat berkat usaha yang keras dan tekun dari kedua putera Sang Guru Saring Hadi Poernomo, yang tidak segan-segan turun langsung menangani latihan atau dengan wejangan-wejangan yang pada dasarnya untuk membangkitkan gairah dan perkembangan Merpati Putih.
Tahun 1968 kedua putera Sang Guru mencoba mengembangkan sayap dengan dibentuknya cabang pertama Madiun JawaTimur. Selanjutnya pihak militer juga mulai ditembus dan berhasil. Dari hasil peragaannya mendapat kehormatan melatih seksi I Korem 072 dan Batalyon 403/Diponegoro di Yogyakarta.  Ketika itu  suasana memasuki era Orde baru.
Pada Tahun 1969 atau tepatnya 2 April 1969 Sang Guru Sarengat Hadi Poernomo wafat. Tahun 1973 Merpati Putih mendapat undangan untuk diadakan penelitian dari segi-segi yang menyangkut metode latihan yang diselenggarakannya. Penelitian di AKABRI udara ditangani langsung oleh tenaga-tenaga ahli, antara lain Prof. Dr. Achmad Muhammad Guru Besar Fakultas Kedokteran UGM dibantu beberapa ahli lainnya dari AKABRI udara sendiri. Hasilnya menggembirakan dan ini mendorong pengembangan yang lebih luas wawasan Merpati Putih.Di Ibukota Jakarta pada tahun 1976 mendapat kehormatan melatih para anggota Pasukan Pengawal Presiden(PasWalPres).
Tahun 1977 komisariat cabang Jakarta dibentuk, dan mendapat peluang melatih para anggota Koppasandha di Cijantung sampai para anggota Kopassandha sanggup memperagakan keahliannya pada kemeriahan acara peringatan HUT ABRI 5 Oktober 1978.
Hingga kini, PPS. Betako Merpati Putih tersebar di tanah air dengan mempunyai hampir 100 cabang
dan lebih dari 10 pengurus daerah. Tidak hanya di Indonesia, Merpati Putih juga tersebar di manca negara seperti Amerika, Jepang, Paris, Belanda, Australia, Austria, NewZealand,dll.
Agar perguruan ini dapat dinikmati oleh masyarakat luas dan terorganisir dengan baik, maka pada  17 April 1998, Mas Poeng dan Mas Budi mendirikan Yayasan Saring Hadipoernomo.  Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, ilmu kanuragan warisan orangtuanya mulai dikembangkan dan diteliti secara ilmiah bersama dengan adiknya, R Budi Santoso.
Pada tanggal 7- 11 Juli 2010, Setelah vakum lebih dari 12 (dua belas) tahun, Merpati Putih menyelenggarakan Kejuaraan Nasional PPS. Betako Merpati Putih V/2010 bertempat di Padepokan Nasional Pencak Silat – Taman Mini. Disamping untuk mempertahankan keutuhan budaya bangsa Indonesia yang saat ini diakui oleh negara lain, Indonesia juga membutuhkan generasi yang berkualitas, berprestasi, tangguh dan sportif. Tema Kejurnas PPS. Betako Merpati PutihV/2010 adalah:
“Melalui Kejuaraan Nasional PPS. Betako Merpati Putih ke V kita kukuhkan kiprah dan peran Merpati Putih sebagai pilar pelestarian nilai budaya dan jati diri ”- “SaveOurCulture”
Materi yang dipertandingkan pada Kejurnas MP V/2010 :
1.  Laga(fighting)
2.  Stamina dan tenaga(pemecahan benda-benda keras)
3.  Getaran(tutup mata dan pemukulan benda keras dengan getaran)
4.  Seni tunggal,berpasangan dan regu
Pesan yang ingin disampaikan dari Kejurnas MP V/2010:
1.  Mempertahankan seni budaya bangsa dan menjaga kemurniannya
2.  Memantapkan ketangkasan dalam seni beladiri Merpati putih dikalangan anggota
3.  Lebih memasyarakatkan seni beladiri Merpati Putih di masyarakat
4.  Menggali potensi pesilat yang tangguh
Sampai saat ini PPS Betako Merpati Putih merupakan salah satu budaya bangsa Indonesia yang berada dibawah naungan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) salah satu Pencak Silat kebanggaan bangsa dan merupakan salah satu wadah pengembangan diri menjadi manusia yang mencintai budayanya sendiri, terutama seni bela diri.
*Team SI : Kong Nizam, Ipam MJ,Sarkam
20100713 merpati putih

Kamis, 28 Oktober 2010

"CAPOEIRA''

Sejarah Capoeira



Pada zaman perbudakan, banyak budak yang diambil dari benua Arfrika. Budak-budak tersebut merupakan tawanan perand dari suku-suku yang kalah perang dalam perang “adu domba” yang di dalangi Portugis. Para tawanan perang tersebut kemudian dibawa oleh Portugis ke Amerika selatan dan sebagian wilayah eropa. Mereka bekerja di perkebunan, tambang, dan pabrik-pabrik. Setelah bekerja, para budak-budak ditempatkan di camp-camp budak yang disebut dengan Zenzalas. Didalam zenalas tersebut para budak dari berbagai suku yang bertikai tersebut dikumpulkan menjadi satu.
Jogo diawal berdirinya Capoeira
Para budak yang melakukan perlawanan melarikan diri dan membuat Camp pertahanan di hutan sekitar tempat ia bekerja dulu. Nah sampai akhirnya seseorang yang bernama Manuel dos reis machado menggunakan tarian Zebra yang telah disisipkan gerakan bertempur untuk mengalahkan pasukan yang berada di suatu kapal laut Portugis. Presiden Brazil sangat kagum dan memanggil beliau untuk memperagakan gerakan-gerakan yang ia pakai. Akhirnya secara kesuluruhan kumpulan gerakan tersebut diberi nama Capoeira yang berarti juga “Padang Rumput Yang Hijau” tetapi masih banyak versi yang lainnya. Capoeira kemudian diangkat menjadi Olahraga tradisional Brazil.